Geografi

@geostudent_indonesia

 "URBAN HEAT ISLAND DI MAJALENGKA DAMPAK PERKOTAAN TERHADAP MIKROKLIMAT LOKAL"

Oleh : Alfas Muhammad Fuad

Mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Magister Universitas Jenderal Soedirman

Majalengka merupakan salah satu kabupaten yang berada di Jawa Barat yang memiliki tingkat perubahan yang tinggi akibat dibangunnya beberapa fasilitas insfrastuktur penting di jawa Barat seperti Bandara Internasional Jawa Barat Sekarang Bandara Internasional  Kertajati dan alih fungsi lahan menjadi kawasan Industrialisasi serta objek pendukung lainnya. Alih fungsi lahan merupakan hal yang tidak dapat dihindari.

Berdasarkan data yang ada di Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka yang bersumber dari Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, dijelaskan bahwa hingga akhir tahun 2012 total lahan pertanian yang tercatat berada pada kisaran Luas lahan pertanian di Indonesia pada tahun 2013 mencapai 51.900 hektar, namun pada akhir tahun 2013 lahan pertanian tersebut telah menyusut hingga menjadi sekitar 50.400 hektar.

Perubahan tutupan lahan akan mengubah pertukaran radiasi dan energi di permukaan lahan sehingga mengganggu keseimbangan permukaan dan mengakibatkan peningkatan suhu permukaanFenomena ini tentunya menjadikan wilayah ini mengalami konversi lahan pertanian dan kawasan hijau yang tinggi hal ini yang melatar belakangi Urban Heat Island terjadi di Kabupaten Majalengka.

Menurut Tike dkk (2020) Urban Heat Island merupakan keadaan dimana fenomena alam khususnya berkaitan dengan iklim yang ditandai dengan meningkatnya suhu kawasan pusat perkotaan padat. Kawasan pusat kota memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan dengan daerah penyangga disekitarnya. Berkurangnya area hijau akibat pembukaan lahan di perkotaan menyebabkan terjadinya efek Urban Heat Island.

Menurut Environmental Protection Agency (EPA), efek ini merupakan masalah utama setiap kota berkembang di dunia khususnya terhadap terjadinya pemanasan global. Fenomena ini pertama diselidiki dan dijelaskan oleh Luke Howard pada 1810-an. Penyebab utama terjadinya fenomena Urban Heat Island (UHI) di perkotaan adalah modifikasi permukaan tanah melalui pengembangan kota yang menggunakan material yang menyimpan panas. Panas yang muncul akibat dari penggunaan energi adalah kontributor kedua terbesar dari fenomena UHI.

Gambar Fenomena UHI

Urban Heat Island merupakan keadaan dimana fenomena alam khususnya berkaitan dengan iklim yang ditandai dengan meningkatnya suhu kawasan pusat perkotaan padat. Kawasan pusat kota memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan dengan daerah penyangga disekitarnya. Berkurangnya area hijau akibat pembukaan lahan di perkotaan menyebabkan terjadinya efek Urban Heat Island.

Menurut Environmental Protection Agency (EPA), efek ini merupakan masalah utama setiap kota berkembang di dunia khususnya terhadap terjadinya pemanasan global. Fenomena ini pertama diselidiki dan dijelaskan oleh Luke Howard pada 1810-an. Penyebab utama terjadinya fenomena Urban Heat Island (UHI) di perkotaan adalah modifikasi permukaan tanah melalui pengembangan kota yang menggunakan material yang menyimpan panas. Panas yang muncul akibat dari penggunaan energi adalah kontributor kedua terbesar dari fenomena UHI.

Kabupaten Majalengka yang secara astronomis terletak pada 108° 03'-108° 25' Bujur Timur dan 6° 36'- 7° 03' Lintang Selatan. Luas wilayah Kabupaten Majalengka adalah 1.315 km2 yang secara administratif meliputi 26 kecamatan, 13 kecamatan, dan 334 desa. Dengan metode penginderaan Jauh kita bisa melihat tingkat UHI di Kabupaten Majalengka dengan menggunakan analisis citra satelit.

Suhu permukaan lahan pada artikel  ini merupakan data suhu yang diperoleh dari hasil pengolahan citra satelit Landsat 8 lintasan 121 baris 65 pada band 10. Penutupan lahan diperoleh dari hasil pengolahan citra satelit dengan menggunakan metode supervised classification Kehijauan vegetasi diperoleh dari hasil pengolahan algoritma NDVI dari band 5 (NIR) dan band 4 (RED) pada citra Landsat 8 Kepadatan diperoleh dari pengolahan algoritma NDBI band 5 (NIR) dan band 6 (SWIR) pada Landsat Citra Landsat 8 bersumber dari United States Geological Survey (USGS).

Gambar perubahan penutup lahan 2013-2019

terlihat bahwa pada tahun 2013, 2016, dan 2019 jenis tutupan lahan vegetasi pertanian didominasi dengan proporsi antara 53% - 46%. Vegetasi pertanian yang dimaksud adalah berupa dari persawahan, perkebunan, ladang, dan tegalan. Selanjutnya untuk tutupan lahan terbangun, luasnya selalu bertambah dengan proporsi 13% - 26%. Lahan terbangun yang dimaksud disini adalah lahan pemukiman, lahan industri, dan lahan ekonomi. dan kawasan perdagangan. Perairan merupakan tutupan lahan dengan proporsi terendah setiap tahunnya, yaitu 1 %. pada tahun 2013, 2016, dan 2019 pada masing-masing kelas vegetasi terdapat perbedaan tiap tahun. Area vegetasi kehijauan yang mendominasi berada pada area hijau tinggi (>0,5). Pada daerah non vegetasi (>0,2) terjadi peningkatan setiap tahunnya meskipun jumlahnya tidak sebanyak area hijau yang tinggi.

Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan pembangunan yang terjadi sehingga mengurangi tutupan vegetasi yang ada. Indeks kehijauan vegetasi yang tinggi terdapat di bagian selatan kabupaten majalengka. Sementara itu, indeks kehijauan vegetasi rendah berada di tengah dan selanjutnya meluas ke bagian daerah utara Majalengka.

 indeks kepadatan bangunan di Kabupaten Majalengka mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Perubahan NDVI dan NDBI Kabupaten Majalengka Tahun 2013-2019

Perhatikan data pada tabel diatas dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2019. Perluasan cenderung terjadi ke arah utara dari wilayah kajian. Pusat kota (bagian tengah Kabupaten Majalengka) mempunyai indeks kepadatan bangunan paling tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. Semakin tinggi indeks kepadatan bangunan, maka semakin banyak atau padat jumlah penghuninya.bangunan yang sudah ada

Gambar Land Surface Temperatur Kabupaten Majalengka

Gambar Persebaran Urban Heat Island di Kabupaten Majalengka

Jika dilihat secara keseluruhan pada tahun 2013, 2016, dan 2019, luas wilayah UHI di Majalengka selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun tahun. Pada peta terlihat peningkatan luas wilayah, dimulai dengan sedikit konsentrasi di kota pusat Kecamatan Jatiwangi pada tahun 2016 hingga terus mendominasi wilayah tengah hingga utara Kabupaten Majalengka pada tahun 2019. Hingga terjadi sedikit pemekaran ke arah selatan pada tahun 2019. Hal ini terlihat jelas perbedaan suhu antara daerah perkotaan dengan daerah sekitarnya. Suhu di daerah perkotaan cenderung lebih tinggi karena didominasi oleh lahan terbangun. Sementara itu, daerah di sekitarnya Daerah ini cenderung memiliki suhu permukaan daratan yang lebih rendah karena didominasi oleh vegetasi dengan kepadatan tinggi.

Berbagai upaya harus dilakukan untuk memastikan bahwa fenomena ini ditangani dengan benar. Beberapa solusi yang ditawarkan oleh pengamat lingkungan seperti UNEP adalah penggunaan atap hijau dan dingin, peningkatan tanaman dan tanaman vegetasi, dan trotoar dingin. Upaya -upaya ini diharapkan untuk mengatasi fenomena Urban Heat Island (UHI) yang muncul.

Banyak penelitian telah melaporkan berbagai tindakan yang diterapkan secara luas dan berhasil untuk mengurangi dampak pulau panas perkotaan dengan manfaat finansial dan lingkungan yang menjanjikan. Tindakan mitigasi yang mungkin dapat dikategorikan secara luas sebagai: (1) terkait dengan pengurangan pelepasan panas antropogenik (misalnya mematikan AC); (2) terkait dengan desain atap yang lebih baik (misalnya atap hijau, pendinginan semprot atap, atap reflektif, dll.); (3) faktor desain lainnya (misalnya pelembapan, peningkatan albedo, kanopi fotovoltaik, dll.).

Tabel 3 menunjukkan langkah-langkah mitigasi utama yang diadopsi atau diusulkan oleh berbagai peneliti, yang juga dapat dikategorikan sebagai yang hanya dapat diimplementasikan selama tahap desain dan perencanaan (misalnya faktor pandangan langit dan bahan bangunan, dll.) dan yang juga dapat diimplementasikan setelah tahap desain dan perencanaan (misalnya area hijau dan pendinginan semprot atap).

Tampaknya penanaman dan vegetasi adalah langkah mitigasi yang paling banyak diterapkan yang dapat mencapai penghematan energi yang besar melalui pengurangan suhu area (Kikegawa et al., 2006; Ashie et al., 1999). Dilaporkan dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Spronken-Smith et al. (2000) bahwa taman dapat membantu mengendalikan suhu melalui penguapan lebih dari 300% dibandingkan dengan sekitarnya. Namun, langkah-langkah mitigasi tidak terbatas pada penanaman dan vegetasi saja dan telah mencakup aspek desain lainnya dengan manfaat yang beragam. Contohnya adalah studi yang dilakukan oleh Kolokotroni et al. (2006) yang memperkirakan bahwa gedung perkantoran yang dioptimalkan di daerah perkotaan dapat mengurangi 10% permintaan energi pendinginan melalui ventilasi yang tepat.

Urano dkk. (1999) melaporkan bahwa pelepasan panas antropogenik memiliki potensi lebih besar untuk memodifikasi lingkungan termal siang hari dan bangunan yang lebih lebar lebih baik daripada bangunan pensil kecil yang tinggi. Taha dkk. (1999) telah melaporkan bahwa nilai albedo permukaan yang tepat dapat mencapai pengurangan suhu dan penghematan energi listrik puncak. Huang dkk. (2005) telah melaporkan dampak lingkungan termal perkotaan pada tingkat kenyamanan pejalan kaki sementara Rosenfeld et al. (1998) telah melaporkan pengurangan pembentukan ozon sebesar 12%.

Berikut adalah beberapa langkah nyata yang bisa kita lakukan:

  1. Tanam dan Rawat Pohon di Sekitar Rumah
    Vegetasi mampu menyerap panas, memberi keteduhan, dan mendinginkan udara secara alami.
  2. Gunakan Atap dan Dinding Berwarna Terang atau Reflektif
    Warna terang memantulkan sinar matahari, mengurangi penyerapan panas oleh bangunan.
  3. Kurangi Permukaan Kedap Air (Aspal, Beton)
    Gantilah dengan bahan berpori atau ruang hijau agar air bisa meresap dan panas tidak terjebak.
  4. Gunakan Transportasi Ramah Lingkungan
    Bersepeda, berjalan kaki, atau menggunakan transportasi umum membantu mengurangi emisi dan polusi panas.
  5. Hemat Energi di Rumah dan Kantor
    Kurangi penggunaan pendingin udara berlebihan, matikan peralatan elektronik saat tidak digunakan, dan gunakan lampu LED hemat energi.
  6. Dukung Kebijakan Kota Hijau
    Dukung program penghijauan kota, taman kota, dan inisiatif ruang terbuka hijau di lingkungan Anda.
  7. Edukasi Lingkungan
    Ajak keluarga, teman, dan tetangga untuk ikut menjaga lingkungan dan menyebarkan kesadaran tentang UHI.

 

Referensi

Aprillia, T., Faradiva, F., & Rachim, M. A. (2020). Urban Heat Island (UHI). Handal Selaras. Diakses pada 28 Juni 2025, dari https://www.handalselaras.com/urban-heat-island-uhi/

Memon, R. A., Leung, Y. C. D., & Liu, C. (2008). A review on the generation, determination and mitigation of Urban Heat Island. Journal of Environmental Sciences, 20(1), 120–128. https://doi.org/10.1016/S1001-0742(08)60019-4

Sanad, A., Kusratmoko, E., & Wibowo, A. (2022). Urban heat island phenomenon in Majalengka Regency. 4th IGEOS: International Geography Seminar 2020, IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1089, 012024. https://doi.org/10.1088/1755-1315/1089/1/012024

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox

@templatesyard